Hukum Istighfar

Hukum Istighfar terbagi menjadi tiga

Istighfar sangatlah dianjurkan bahkan telah diperintahkan langsung oleh Allah swt, dan selalu diingatkan juga oleh Nabi Muhammad saw, Meskipun Istighfar sendiri hukumnya sunnah (mustahab) tapi karena sebab tertentu bisa menjadi wajib atau bahkan istighfar sendiri bisa haram jika dilakukan. Oleh karena itu, dilihat dari kaca mata hukum syariat Istighfar ada 3 macam yaitu:

1. Istigfar sunnah (mustahab)

Karena mengingat bahwa Istigfar paling baik dalam bentuk doa dan ibadah, maka dalam semua kondisi terkhusus pada tempat-tempat berikut disunahkan:

  • Di antara dua sujud salat
  • Setelah membaca empat tasbih
  • Dalam qunut khususnya qunut salat witir
  • Di waktu sahar
  • Ketika mengantarkan jenazah, penguburan dan ziarah kubur
  • Dalam salat memohon hujan (Istisqa)
  • Pada bulan Ramadhan, untuk meninggalkan sebagian kebiasaan seperti Istigfar yang dilakukan sebagai kaffarah memukul-mukul kepala dan wajah

2. Istigfar Wajib

Mengapa Istigfar menjadi wajib dilakukan oleh kaum mukmin, berikut beberapa alasannya:

  • Istighfar sebagai kaffarah wajib karena berbuat haram seperti bersumpah (dalam jidal) kurang dari 3 kali
  • Berbuat kefasikan atau Istigfar sebagai ganti (badal) dari kaffarah wajib bagi orang yang tidak mampu menunaikan satu pun dari kaffarah-kaffarah (membebaskan budak, berpuasa 2 bulan berturut-turut, dan memberi makan atau pakaian 60 orang fakir) hukumnya wajib
  • Wajibnya Istighfar yang menggatnikan kaffarah Zhihar ketika pelakunya tidak mampu membayar kaffarah masih kontroversial
  • Istigfar dalam salat mayit
  • Pelaku ghibah untuk orang yang dighibah masih diperselisihkan

2. Istigfar Haram

Adapun Istighfar bisa dikategorikan menjadi haram apabila dilakukan untuk:

  • Memohonkan ampunan bagi orang-orang musyrik,
  • Memohonkan ampun untuk orang kafir menurut nas al-Quran
  • Memohonkan ampun yang ditujukan kepada orang munafik

Setelah mengetahui Ayat tentang perintah untuk BerIstighfar, dan Hadist-hadist yang mendukung perintah istighfar, serta beberapa point tentang hukum kenapa Istighfar harus dilakukan oleh seorang mukmin, maka kali ini kita harus mengetahui tatacara atau adab terkait bagaimana Istighfar yang baik dan benar yang dibantu oleh sebuah aplikasi Amalan Santi.

Larangan BerIstighfar untuk orang Musyrik

Artinya :

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam (qs. At-taubah 9:113)”

Dalam Ayat 113 surah al-Taubah, Allah Swt melarang Nabi Muhammad Saw dan orang-orang mukmin memohonkan ampunan untuk orang-orang musyrik. Pelarangan ini disebabkan karena tiadanya pengaruh Istighfar untuk orang-orang musyrikdan sia-sianya Istighfar untuk mereka. Sebagian ulama memandang pelarangan Istighfar untuk orang-orang musyrik karena di antara mereka yang condong pada iman dan islam terdapat mafsadah. Sebab, bila Istighfar untuk mereka diterima maka akan muncul dugaan bahwa dalam hal ini orang-orang mukmin tidak lebih baik daripada orang-orang musyrik. Dari sisi lain, Istighfar adalah satu bentuk penampakan kecintaan kepada orang-orang musyrik dan sebuah ikatan dengan mereka. Dan banyak dari hal-hal ini dilarang. Aplikasi Amalan Santri akan senantiasa mengajak kita untuk selalu mengingat Allah Swt dengan cara berdzikir.

Sebab-sebab dilarangnya Istighfar

Salah satu sebab yang berkaitan dengan sebab turunnya al-quran ayat 113 surat at-taubah dimuat bahwa sekelompok kaum muslimin bertanya pada Nabi Muhammad Saw “apakah Anda tidak memohonkan ampunan kepada Allah Swt untuk nenek moyang kami yang telah meninggal di jaman jahiliyah?” dan dengan turunnya ayat tersebut, Allah Swt menjawab mereka bahwa Nabi Muhammad Saw dan orang-orang mukmin tidak berhak memohonkan ampunan (Istighfar) untuk orang-orang musyrik.

Kemudian alasan yang dimuat dalam sumber Syi’ah dan Ahlusunnah disebutkan bahwa saat Ali mendengar permohonan ampunan seorang muslim untuk ayah dan ibunya yang musyrik, orang itu berkata “lalu bagaimana Nabi Ibrahim As memohonkan ampunan kepada Allah untuk kedua orang tuanya?” Ali menyampaikan pertanyaan orang itu kepada Rasulullah Saw, lalu turunlah ayat 113 dan 114 surah al-Taubah.

”Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun (qs. At-taubah 9:114)

Setelah Allah Swt melarang Istighfar untuk orang-orang musyrik pada ayat 113 surah at-taubah, kini menyinggung rahasia Istighfar Nabi Ibrahim As untuk Azar. Permohonan ampunan ini terjadi ketika Nabi Ibrahim As masih mengharap keimanan Azar. Oleh sebab itu, untuk menuntun Azar pada jalan yang lurus beliau berjanji padanya untuk memohonkan ampunan dan menepati janji ini. Akan tetapi, setelah jelas permusuhan Azar pada Allah Swt beliau lepas tangan darinya. Dalam kandungan riwayat-riwayat lain terkait dengan maslah ini dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim As menjadikan imannya Azar sebagai syarat Istighfar untuknya, dan setelah jelas bagi Nabi Ibrahim As permusuhan Azar pada Allah Swt, maka ia lepas tangan darinya.

Sebab-sebab larangan Istighfar yang lemah

Pada sebab larangan yang lain diyakini bahwa maksud dari Istighfar itu adalah Istighfar Rasulullah Saw untuk Abu Thalib atau untuk Aminah padahal sebab larangan ini dengan berbagai dalil ditolak oleh para peneliti. Di antaranya:

Riwayat tersebut lemah, sebab dinukil oleh Said bin Musayyib yang dicela oleh sebagian sumber rijal dan tidak mau dikomentari oleh sebagian sumber rijal yang lain dan sebagian ahli rijal menonvalidkan riwayat Said bin Musayyib karena benci kepada Ahlulbait.

Hal yang masyhur bahkan diterima bahwa surah al-Taubah turun pada tahun ke-9 H, sementara wafatnya Abu Thalib terjadi pada tahun ke-10 bi’tsah. Oleh karena itu, sebab larangan di atas jika dilihat dari segi waktu cenderung kontradiktif, sehingga sebagian tafsir dalam mencari solusi memberikan justifikasi tertolak, seperti turunnya ayat ini sebanyak dua kali atau mereka mengemukakan bolehnya Istighfar Nabi Muhammad Saw untuk Abu Thalib sejak wafatnya hingga pada masa turunnya ayat tersebut.

Namun mereka tidak menyinggung soal point ini bahwa bagaimana Nabi Muhammad Saw bertahun-tahun menunjukkan kecintaannya kepada pamannya yang musyrik, padahal Allah Swt dengan tegas dan berkali-kali melarangnya mencintai orang-orang musyrik.

Pada sebagian sebab larangan Istighfar ini Abu Thalib menyatakan, aku berada pada agama Abdul Muththalib, dan kebertauhidan Abdul Muththalib menurut Syi’ah dan banyak dari Ahlusunnah hal yang diterima.

Demikian juga dinukil dari Abbas bin Abdul Mutthalib bahwa Abu Thalib sebelum wafatnya berikrar akan tauhid dan risalah kenabian, dan syair-syairnya menguatkan masalah ini. Sebagian ulama meyakini Abu Thalib menyembunyikan imannya sehingga dengan cara ini ia bisa melindungi Rasulullah saw lebih baik. Dalam riwayat Ahlulbaiat, Abu Thalib diserupakan dengan Ashabul Kahfi dan Mukmin Al Firaun. Imam Ridha berkata kepada Aban bin Taglib, “Jika kamu tidak yakin pada imam Abu Thalib, berarti ia di dalam neraka”.

Memohon ampunan kepada Allah Swt merupakan sebuah keharusan yang harus dilakukan oleh setiap kaum mukmin, namun tentu harus memperhatikan tatacara yang telah Allah swt dan Rosululloh Saw sampaikan, supaya perbuatan kita bisa mendapatkan keberkahan dan terhidar dari kesalahan akibat ketidaktahuan.

Dzikir merupakan salah satu media kaum mukmin dalam mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah Swt, secara tidak sadar kita banyak kehilangan waktu dengan semakin berkembangnya tekhnologi dan informasi. oleh karena itu kita sebagai kaum mukmin harus pandai-pandai dalam menghadapi perkembangan zaman ini, gunakan tekhnologi yang ada dengan sebaik mungkin, apalagi dengan banyaknya aplikasi-aplikasi yang menjadikan kita lebih mudah dalam mengingat Allah swt, salah satunya seperti Aplikasi Amalan Santri. dengan aplikasi tersebut kita bisa diingatkan untuk senantiasa berdzikir dan beribadah kepada Allah swt.

Leave a Comment